GOWA|TUBARANIA.COM – Di tengah dinamika politik dan perbedaan pandangan yang mulai menghangat di Butta Gowa, sebuah pesan mendalam kembali menggema. Mengusung filosofi lokal Abbulo Sibatang—yang bermakna seikat bambu yang kuat karena bersatu—seruan ini hadir sebagai pengingat bagi seluruh elemen masyarakat Gowa untuk kembali menautkan persaudaraan di atas segala kepentingan 2/7/2026.

​Gowa, tanah yang dikenal dengan sejarah panjang kepemimpinan bijak, kini diuji oleh gesekan kepentingan yang berpotensi memecah belah. Narasi yang berkembang menekankan bahwa kejayaan negeri ini tidak dibangun di atas ujung pedang atau ego kekuasaan, melainkan melalui hati yang saling mengerti dan musyawarah yang tulus.

​Pesan yang tersebar luas di media sosial dengan tagar #PolitikBolehBedaHaluanTapiTanahDarahDanMasaDepanTetapSatu ini menyoroti bahaya dari sikap fanatisme berlebih. “Urat saraf panas karena kuasa, satu sisi tarik, sisi lain binasa,” demikian penggalan narasi yang mengingatkan bahwa konflik hanya akan merugikan masa depan tanah kelahiran.

​Sebagai tanah yang mengalirkan darah keberanian Makassar, masyarakat Gowa diajak untuk melihat perbedaan pendapat bukan sebagai pemicu permusuhan. Sebaliknya, perbedaan harus disikapi dengan duduk bersama, berkomunikasi dengan jujur, dan menanggalkan kesombongan yang hanya akan menghambat kemajuan daerah.

​Pesan perdamaian ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga kedamaian di Gowa bukan hanya untuk saat ini, melainkan sebagai warisan bagi anak cucu. Gowa diharapkan tetap menjadi rumah yang teduh bagi semua, bukan menjadi arena bara konflik yang membagi-bagi kelompok.

​Narasi ini menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat—baik tokoh politik, pemuda, maupun masyarakat luas—untuk kembali menjadikan sejarah sebagai suluh. Gowa harus kembali dikenal sebagai pusat kebijaksanaan, tempat di mana perdamaian dijunjung tinggi di atas perbedaan haluan politik.

​Di akhir pesannya, Pensil Rakyat Yang Telah Usang—sang penggerak narasi ini—menegaskan kembali esensi persatuan: bahwa di atas perbedaan pilihan politik, tanah, darah, dan masa depan Gowa adalah satu kesatuan yang tidak boleh tercerai-berai.

Sumber : DT

Editor: Bachtiar