

Gowa, Sulawesi Selatan — Kondisi memprihatinkan ruas jalan poros Sapaya–Malino di Kabupaten Gowa kembali menuai sorotan publik. Jalan yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, perekonomian, dan akses pendidikan tersebut mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun tanpa penanganan signifikan. Puncaknya, warga bersama komunitas sopir memilih turun tangan melakukan perbaikan secara swadaya sebagai bentuk kepedulian sekaligus protes terhadap lambannya respons pemerintah.

Pada kegiatan yang berlangsung hari ini, puluhan warga dari berbagai elemen tampak bergotong royong melakukan pengecoran di sejumlah titik jalan yang rusak berat. Dengan peralatan sederhana dan bahan yang dihimpun secara mandiri, mereka menutup lubang-lubang besar yang selama ini menjadi penyebab utama kecelakaan dan hambatan distribusi barang maupun jasa.
Aksi ini tidak hanya mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi sinyal kuat atas menurunnya kepercayaan publik terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat Kabupaten Gowa, Andi Rahim, yang juga menjabat sebagai Kabiro Bintang Bhayangkara Indonesia Kabupaten Gowa, hadir langsung di lokasi kegiatan. Ia menyampaikan kritik tegas kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan agar segera merealisasikan perbaikan jalan tersebut secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Menurutnya, ruas Sapaya–Malino bukan sekadar jalur alternatif, melainkan akses strategis yang menghubungkan berbagai aktivitas vital masyarakat.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Jangan hanya datang melakukan pengukuran lalu menghilang tanpa realisasi. Ini jalan yang menyangkut keselamatan dan kehidupan banyak orang. Kami minta segera ada tindakan nyata,” tegas Andi Rahim.
Ia juga menyoroti peran anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan agar lebih responsif terhadap kondisi di lapangan. Andi Rahim menilai, fungsi pengawasan legislatif harus diwujudkan melalui kehadiran langsung dan dorongan konkret terhadap percepatan pembangunan.
“Dewan jangan tutup mata. Turun langsung dan lihat kondisi sebenarnya. Ini bukan persoalan kecil, melainkan kebutuhan mendesak masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan perbaikan jalan ini turut melibatkan berbagai unsur masyarakat, khususnya dari wilayah Batupute. Sejumlah tokoh lokal seperti Ketua LPM Ahmad Tahir, S.Pd., Muh. Zuhal, S.IP., serta jajaran RW dan RT setempat terlihat aktif berpartisipasi bersama warga.
Kehadiran mereka memperlihatkan sinergi antara masyarakat dan tokoh lokal dalam menjawab persoalan infrastruktur yang belum tersentuh secara optimal oleh pemerintah.
Salah seorang warga yang terlibat mengungkapkan bahwa aksi ini dilakukan demi kepentingan bersama, terutama bagi keselamatan pengguna jalan.
“Kami tidak bisa terus menunggu. Anak-anak sekolah setiap hari lewat sini, risikonya besar. Kalau bukan kami yang mulai, siapa lagi,” ujarnya.
Jalan poros Sapaya–Malino memiliki peran strategis dalam menunjang akses pendidikan, khususnya bagi pelajar yang menuju sekolah-sekolah di kawasan Sapaya serta Pondok Pesantren Ibnu Amin di Bungabaji. Kerusakan jalan yang parah selama ini kerap menghambat aktivitas belajar mengajar, bahkan meningkatkan risiko kecelakaan bagi para pelajar.
Selain itu, jalur ini juga menjadi penghubung penting bagi distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi jalan yang rusak menyebabkan biaya transportasi meningkat serta waktu tempuh menjadi lebih lama, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan warga.
Masyarakat juga menyoroti adanya kegiatan pengukuran jalan yang sebelumnya dilakukan oleh pihak terkait, namun hingga kini belum diikuti dengan realisasi pembangunan fisik. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa proses tersebut hanya bersifat administratif tanpa komitmen nyata.
Aksi pengecoran mandiri yang dilakukan warga hari ini menjadi simbol ketegasan bahwa kesabaran masyarakat telah mencapai batasnya.
“Kalau rakyat sudah memperbaiki jalan negara sendiri, itu tanda bahwa kepercayaan mulai hilang. Ini harus jadi perhatian serius pemerintah,” pungkas Andi Rahim.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah konkret Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan DPRD Provinsi dalam merespons kondisi ini. Harapan masyarakat sederhana: perbaikan jalan yang layak, aman, dan berkelanjutan, bukan sekadar janji atau rencana di atas kertas.
Ruas Sapaya–Malino tidak hanya membutuhkan penanganan darurat, tetapi juga pembangunan infrastruktur yang terencana dan berkualitas agar mampu menunjang aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
Aksi gotong royong warga hari ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap pembangunan tidak pernah padam. Namun demikian, tanggung jawab utama tetap berada di tangan pemerintah sebagai pemegang mandat untuk memastikan kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya.

