Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Bulukumba — Aksi dua aktivis perempuan yang menyuarakan penolakan rencana pembangunan industri petrokimia di tengah Rapat Paripurna DPRD Bulukumba pada peringatan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Bulukumba, Rabu (4/2/2026), menuai beragam respons. Salah satunya datang dari Tokoh Pemuda Bulukumba, Sam Prakoso.

Sam menilai aksi tersebut mencerminkan keberanian generasi muda dalam menyuarakan aspirasi. Namun, ia menegaskan bahwa keberanian saja tidak cukup tanpa pemahaman konteks dan substansi persoalan.

Menurutnya, aksi spontan yang dilakukan kedua aktivis itu tidak menunjukkan niat mengacaukan jalannya sidang paripurna. Ia melihatnya sebagai bentuk luapan ekspresi yang lahir dari semangat muda.

“Saya yakin itu bukan niat mengacaukan acara. Itu lebih mirip luapan semangat muda—semangat yang kadang terlalu cepat naik ke panggung sebelum membaca naskahnya secara utuh,” ujar Sam.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dalam proses demokrasi, keberanian harus dibarengi dengan kedalaman analisis. Tanpa pemahaman yang matang, aksi protes berisiko kehilangan arah bahkan melemahkan pesan yang ingin diperjuangkan.
Sam juga menyoroti tuntutan pembatalan rencana pembangunan industri petrokimia di Kecamatan Bontobahari. Menurutnya, rencana tersebut saat ini masih berada pada tahap kajian dan belum tercantum dalam dokumen perencanaan resmi daerah.

“Kalau isunya masih dikaji dan belum diputuskan, lalu apa yang sebenarnya sedang dibatalkan? Jangan sampai kita sibuk memadamkan api yang bahkan belum dinyalakan,” sambungnya.

Ia menekankan bahwa aksi protes semestinya menjadi puncak dari proses berpikir yang matang, bukan menggantikan ruang diskusi dan pendalaman isu. Dialog publik, menurutnya, merupakan kanal yang lebih tepat untuk membahas persoalan strategis seperti dampak lingkungan dan sosial dari rencana industri.

Selain itu, Sam menilai momentum Rapat Paripurna Hari Jadi memiliki sifat simbolik dan kultural, sehingga bukan ruang ideal untuk debat kebijakan.
“Rapat paripurna Hari Jadi bukan ruang debat kebijakan. Itu ruang simbolik dan kultural. Ketika semua ruang diperlakukan sama, di situlah kita kehilangan adab dan arah,” tegasnya.

Tidak hanya itu Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bulukumba, khususnya budaya timur yang menjunjung etika dan tata krama dalam menyampaikan pendapat. Baginya, nilai tersebut bukan untuk membatasi kritik, melainkan menuntun agar lebih terarah dan efektif.
Menutup pernyataannya, Sam mengajak generasi muda untuk meningkatkan kualitas perjuangan dengan memperkuat kapasitas intelektual dan memilih strategi advokasi yang tepat.

“Bulukumba tidak kekurangan anak muda yang berani berteriak. Yang kita butuhkan adalah anak muda yang berani membaca, berani berdiskusi, dan berani memilih panggung yang tepat. Karena kritik yang matang akan jauh lebih mengguncang daripada teriakan yang tergesa-gesa,” pungkasnya.

(Redaksi tubarania)