Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Makassar_26-02_2026_ Viralnya pemberitaan mengenai kritik Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gajah Mada “Tiyo Ardianto” terhadap berbagai kebijakan serta program pemerintah dari Presiden Republik Indonesia bapak Prabowo Subianto menuai pro dan kontra di kalangan publik.

Meski banyak kalangan yang mendukung keberanian dari Tiyo, namun tak sedikit juga pihak yang menilai bahwa kritik yang dilontarkan oleh Ketua BEM UGM tersebut sangat spekulatif, liar, dan tidak berdasar pada diskursus ilmiah yang didukung dengan data serta fakta-fakta empiris.

Seperti halnya yang dikemukakan oleh oleh Wahyudin Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa ITB Nobel Indonesia yang menganggap bahwa kritik dari Ketua BEM UGM tak lebih dari sekadar umpatan-umpatan personal yang tendensius terhadap pemerintah khususnya pada Presiden Prabowo Subianto.

“Kami menilai kritik ini dari Ketua BEM UGM mulai dari program MBG, Kopdes/Kel Merah-Putih, pembentukan kabinet pemerintahan, surat laporan kepada UNICEF, hingga mengaitkan meninggalnya seorang anak SD di NTT dengan Presiden Prabowo Subianto, bukanlah sebuah kritikan dari seorang Mahasiswa, akan tetapi lebih mirip dengan umpatan-umpatan personal yang tendensius terhadap pemerintah, khususnya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia H.Prabowo Subianto”. Makassar, selasa 23 Februari 2026

Menurutnya, sebagai seorang mahasiswa kita mesti melakukan kajian isu-isu permasalahan publik secara proporsional, sistematis, dan substantif untuk menemukan akar masalahnya serta solusinya.

“Mahasiswa punya daya nalar kritis yang tajam untuk mengupas berbagai isu dan permasalahan bangsa secara proporsional, sistematis, dan substantif, bukan secara sporadis yang cenderung terlihat sebagai bagian dari agitasi dan propaganda politik yang justru bisa menciptakan disintegrasi bangsa”. Tutur Wahyu.

Ia menambahkan jika dirinya tidak dalam posisi membela pemerintah, karena dalam berbagai kebijakan dan program pemerintah saat ini tentu masih memiliki banyak kekurangan yang mesti disempurnakan lagi. Akan tetapi dirinya juga tidak membenarkan jika ada seorang tokoh Mahasiswa dari kampus ternama justru terlihat seperti provokator dan alat propaganda politik yang justru dapat merusak harmonisasi, persatuan, dan kehormatan bangsa di mata dunia.

“Saya sama sekali tidak dalam posisi membela pemerintah, hanya saja saya merasa miris jika ada seorang tokoh Mahasiswa dari kampus ternama yang terkesan seperti seorang provokator dan alat propaganda untuk kepentingan politik tertentu yang justru ingin mengganggu harmonisasi, persatuan, dan kehormatan bangsa dengan malayangkan surat ke UNICEF yang notabenenya merupakan lembaga asing yang tidak berwenang untuk mengadili pemerintah dalam sebuah negara berdaulat, apa lagi isi penyampaiannya tidak berdasar dan beretika, yang justru mempermalukan wajah Mahasiswa Indonesia di mata internasional”. Tutup Wahyu.