Gowa, Tubarania.com— Di tengah persoalan data desil yang masih menjadi perhatian masyarakat, terselip kisah warga kurang mampu yang harus berjuang mendapatkan pengobatan ketika sedang sakit.
Bagi orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan, harapannya sebenarnya sederhana. Bisa mendapatkan akses ke rumah sakit, memperoleh perawatan yang layak, dan kembali pulang dalam kondisi yang lebih baik.
Namun, bagi sebagian warga miskin, perjuangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyakit yang diderita.
Ada persoalan lain yang harus dihadapi, yakni akses terhadap Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang terkendala karena status desil dalam data sosial ekonomi dinilai terlalu tinggi.
Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri ketika kemampuan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk menanggung biaya pengobatan secara mandiri.
Di satu sisi, penyakit membutuhkan penanganan. Di sisi lain, biaya pengobatan dapat menjadi beban berat bagi keluarga yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih harus berjuang.
Dalam situasi seperti itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Gowa menjadi salah satu tempat warga menaruh harapan untuk mendapatkan bantuan biaya pengobatan.
Bagi keluarga yang sedang menghadapi persoalan kesehatan, bantuan tersebut bukan sekadar nominal uang atau lembar bantuan. Bantuan dapat menjadi penopang agar pasien tetap mendapatkan perawatan sekaligus mengurangi beban ekonomi keluarga.
Sebab, ketika seseorang jatuh sakit, jangan sampai kemiskinan membuat sebuah keluarga terpaksa memilih antara membayar biaya pengobatan atau memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Persoalan data dan desil pun diharapkan terus mendapat perhatian dan pembenahan. Masyarakat yang benar-benar berada dalam kondisi membutuhkan diharapkan tidak kehilangan akses terhadap jaminan kesehatan hanya karena persoalan pemutakhiran atau penilaian data.
Karena di balik angka-angka dalam sebuah data, terdapat manusia yang menjalani kehidupan. Di balik setiap desil, ada keluarga yang memiliki kebutuhan dan persoalan masing-masing.
Dan di balik seorang warga yang sedang sakit, selalu ada harapan sederhana: sembuh dan kembali berkumpul bersama keluarga.
Kehadiran lembaga sosial seperti Baznas diharapkan dapat terus menjadi jembatan bagi masyarakat yang berada dalam kondisi sulit, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Pada akhirnya, kepedulian dan gotong royong menjadi penting agar tidak ada warga miskin yang merasa sendirian ketika menghadapi penyakit.
Jangan sampai ada masyarakat yang sedang sakit harus bertanya dalam keputusasaan:
“Kalau saya sakit, ke mana saya harus mencari pertolongan?”
Sebab kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia. Dan bagi mereka yang sedang berada di titik paling sulit dalam hidupnya, sebuah uluran tangan terkadang bukan hanya berarti bantuan—tetapi juga sebuah harapan untuk bertahan dan sembuh.
Wartawan: Indra, Editor: Bachtiar Tahir



Tinggalkan Balasan