

SUNGGUMINASA|TUBARANIA.COM – Suasana di Kantor DPRD Kabupaten Gowa memanas pada Senin (11/5/2026). Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas isu sensitif terkait pimpinan daerah berakhir dengan ketegangan, baik di dalam ruang sidang maupun di pintu gerbang markas wakil rakyat tersebut.
Skandal asmara,program pengadaan baju seragam gratis tahun 2025 dengan anggaran Rp.15 miliar dan pemutusan beasiswa rapat Dengar Pendapat ini diinisiasi setelah mencuatnya dua isu besar yang mengguncang publik Gowa.
RDP tersebut dihadiri oleh sejumlah lembaga swadaya dan media, di antaranya:
Lembaga Poros Pemuda Melawan (Pormula),Independen Nasionalis Anti Korupsi (Inakor) dan Media Fatualnet.
Dua agenda utama yang dikawal oleh koalisi ini adalah tuntutan klarifikasi atas dugaan skandal perselingkahan yang menyeret nama Bupati Gowa, serta kebijakan kontroversial terkait pembatalan sepihak beasiswa S3 milik mahasiswa bernama Risqila Amran.
”Kami menuntut transparansi. Ini bukan hanya soal moralitas pemimpin, tapi juga soal hak pendidikan anak bangsa yang diputus tanpa alasan yang jelas,” ujar salah satu perwakilan Pormula di dalam persidangan.
Aksi Demonstrasi yang dihalangin oleh Ormas sementara RDP masih berlangsung sengit di dalam ruangan, situasi di luar gedung justru mencekam. Sekelompok mahasiswa yang hendak melakukan aksi unjuk rasa untuk mengawal isu yang sama tertahan di depan pintu masuk.
Aksi massa mahasiswa ini tidak dapat masuk ke area kantor DPRD karena dihadang oleh massa dari Ormas KIWAL Garuda Hitam.
Aksi sempat terjadi ketegangan pengusiran oleh massa mahasiswa dan anggota ormas di depan kantor DPR. Barikade Brimob,TNI ,Satpol PP dan sejumlah Ormas KIWAL Garuda Hitam tampak berjaga ketat di area pintu masuk, mengklaim menjaga kondusivitas wilayah.
Aparat kepolisian segera memperketat penjagaan untuk mencegah bentrokan fisik yang lebih luas antara kedua kubu.
Hingga berita ini diturunkan, jalannya RDP di dalam gedung masih diwarnai instruksi dan perdebatan alot. Belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Gowa maupun perwakilan DPRD terkait keputusan akhir dari tuntutan yang diajukan oleh Pormula dan Inakor.
Massa mahasiswa dilaporkan masih bertahan di sekitar lokasi sambil terus menyuarakan orasi, menuntut agar aspirasi mereka didengar langsung oleh pimpinan dewan tanpa ada intervensi dari pihak luar

